Sumsel.Radarinformasinews.com, Palembang – Tidak ada panggung. Tidak ada pidato panjang. Hanya deretan orang berdiri di tepi Jalan Opi Raya, Banyuasin, Kamis (19/3/2026), membagikan takjil kepada pengendara yang melintas. Singkat, cepat, tapi terasa.
Di balik aksi itu, ada kolaborasi antara National Paralympic Committee Indonesia Sumatera Selatan dan Polrestabes Palembang—dua institusi dengan latar berbeda, namun bertemu dalam satu hal: menghadirkan kepedulian secara langsung.
Tidak ada jarak dalam momen itu. Polisi, atlet disabilitas, dan masyarakat berada di ruang yang sama—jalanan. Interaksi terjadi tanpa protokol, tanpa sekat. Hanya tangan yang memberi dan menerima.
Ketua NPCI Sumsel, Rian Yohwari, menyebut langkah ini sebagai bentuk kehadiran nyata, bukan sekadar simbolik.
“Kami ingin masyarakat merasakan langsung. Bukan hanya mendengar atau melihat dari jauh,” ujarnya singkat.
Pilihan turun ke jalan bukan tanpa alasan. Di ruang publik yang paling sibuk dan paling terbuka, pesan tentang kepedulian justru lebih cepat sampai. Tidak perlu undangan, tidak perlu formalitas.
Bagi pengendara, momen itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun dalam waktu sesingkat itu, ada pengalaman yang berbeda: dihentikan bukan karena razia, melainkan karena diberi.
Di situlah letak kekuatan aksi ini. Sederhana, tapi mengubah persepsi.
Kehadiran aparat dari Polrestabes Palembang dalam konteks sosial seperti ini memperlihatkan sisi lain institusi—lebih dekat, lebih manusiawi. Sementara NPCI Sumsel menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menjadi penggerak kepedulian.
Aksi ini memang tidak besar. Nilainya mungkin tidak signifikan secara materi. Namun dampaknya bekerja di ruang yang lebih dalam: membangun rasa, menumbuhkan kepercayaan, dan mengingatkan bahwa empati tidak butuh panggung.
Di tengah banyaknya kegiatan seremonial, langkah sederhana di jalanan ini justru terasa paling jujur.(Rilis)















